Berita

Jangan Asal Pilih Bupati

KARAWANG, RAKA – Tahun 2020 menjadi tahun politik bagi Kabupaten Karawang. Siapa pun yang memiliki hak pilih, akan menentukan nasib Kota Pangkal Perjuangan. Apabila salah pilih, pembangunan daerah industri ini dipastikan melempem. Begitupun para mahasiswa, mereka punya pandangan dan kriteria mengenai seperti apa bupati yang ideal.

Aghes Ghestania Purwati Baban (21) mengatakan, seorang bupati tentunya harus amanah. Maksudnya apa yang dijanjikannya harus ditepati. Menurutnya seorang bupati jangan hanya bisa memberikan janji politik yang biasanya cuma janji palsu. “Kalau ngomongnya A, ya sudah jalanin yang A itu,” ungkapnya yang merupakan mahasiswa semester 8 prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Singaperbangsa Karawang.

Menurutnya seorang bupati juga harus jujur dalam segala hal. Diantaranya dalam penggunaan anggaran daerah harus seusai dengan realita yang ada. Kebalikannya, kalau tidak jujur bupati akan korupsi, dan menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi. “Uang rakyat jangan ditilep, misalnya malah jalan-jalan ke Paris, belanja barang mewah padahal pakai uang rakyat,” gerutunya.

Mahasiswa lainnya Ratih Dewi Apriliani (21) berpendapat, selain jujur, bupati juga harus betul-betul perhatian terhadap rakyatnya terutama rakyat kecil. Bupati harus bijaksana dalam menentukan semua kebijakan, jangan hanya berdasarkan kepentingan politik, melainkan harus berdasarkan kepentingan masyarakat. Untuk bupati Karawang nantinya, dia juga berharap pembangunan yang dilakukan jangan melulu terpusat di daerah perkotaan, melainkan menyeluruh ke semua daerah. “Gak cuma perkotaan saja yang dibagus-bagusin, tapi daerah-daerah juga harus diperhatikan. Salah satunya infrastruktur,” tuturnya.

Hal senada disampaikan oleh Andika Kuswara (19), pendapatnya dalam menentukan suatu kebijakan bupati tidak boleh otoriter, melainkan harus mendengarkan aspirasi rakyatnya. Ia mengingatkan bahwa seorang pemimpin itu bukan berkuasa atas wilayah miliknya sendiri, melainkan milik bersama. Agar lebih efektif mendengarkan aspirasi, bupati mesti terjun dan melihat langsung realita kondisi masyarakat. “Lagipula negara kita kan negara demokrasi, kedaulatan ada di tangan rakyat,” terangnya.

Sebenarnya jiwa kepemimpinan juga harus tertanam pada diri mahasiswa, sebab mereka lah generasi penerus yang menentukan baik tidaknya Karawang di masa depan. Willy Panjaitan (22) mengatakan, ada tiga hal yang bisa dilakukan mahasiswa untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan. Pertama harus membudayakan literasi dengan memperbanyak membaca dan berdiskusi. Kedua ikut berorganisasi atau kegiatan-kegiatan yang terlibat langsung dengan masyarakat. “Harus bisa juga mengambil pelajaran dari hal lain, dari tokoh-tokoh misalnya,” pungkasnya. 

Sumber : https://radarkarawang.id/metropolis/jangan-asal-pilih-bupati/

Leave A Comment